Ikha2705’s Weblog

Januari 11, 2010

PADA SUATU HARI YANG DISEBUT ORANG VALENTINE

Filed under: Uncategorized — ikha @ 4:09 am

Hari ini hari Sabtu, tanggal 14 Februari 2009. Hiasan penuh gemerlap bernuansa pink bertebaran di pusat-pusat perbelanjaan. Para karyawan di toko kue yang biasanya banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol, mencuri-curi tidur sambil menonton kue-kue dagangan bos mereka yang masih terpajang apik di balik kaca, kini telah berdandan manis dengan dekorasi serba pink dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sibuk melayani pasangan muda-mudi yang hilir-mudik disitu.

Begitu juga toko-toko bunga. Laris manis bak kacang goreng. Semua yang berwarna pink dan putih habis terjual. Mendadak kurir-kurir harus bangun sejak pagi buta karena kebanjiran order untuk mengantarkan bunga ke rumah Nona A, ke rumah pacarnya si B, atau bahkan ke rumah selingkuhannya Mas C.

Aku celingukan bingung melihat dunia yang berubah jadi serba merah muda dalam seharian ini. Namun tiba-tiba aku ingat. Kata orang-orang, ini hari kasih sayang.

Valentine’s day.

“Yaelah, valentine. Penting ya?” Metta membuka percakapan kami pagi itu di tengah anak-anak sekelas lainnya yang duduk bersandar di luar kelas. Wah, gak nyangka si pinky ini malah menanggapi valentine dengan datar. Tapi hari ini emang penting. Penting artinya bagi yang percaya dan merayakan. Sudah menjadi rahasia umum kalau bukan hal yang lazim merayakan valentine secara besar-besaran di negeri ini. Toh, 14 Februari kan bukan tanggal merah alias hari libur nasional?

Ada yang bilang itu cuma budaya barat yang asal-usulnya belum jelas. Banyak juga yang berpendapat kalo itu dilarang agama. Tapi semua itu lagi-lagi tergantung sama masing-masing individunya. Aku yang hari itu memakai pakaian hitam-hitam dan jauh dari kesan valentine (malah dikira abis ngelayat) lebih memilih untuk netral.

Lagi seru-serunya ngobrol, mendadak terlihat Unyil baru dateng dan langsung memarkirkan motornya tak jauh dari lorong. Cengar-cengir sambil dadah-dadah, tak lupa nyisir dulu sambil ngaca di spion motornya.

Duh…retak dah lama-lama tuh spion!

Tak lama ia berjalan menuju kami sambil cengengesan centil dengan Hp di kuping. Aku, Metta dan Ika langsung berebutan nguping. “Hahahaha…makasih ya…aku udah dikirimin bunga sama boneka…hihihiii..”

Olala…ternyata Unyil dikirimin pernak-pernik valentin pagi-pagi buta oleh sang mantan pacar! (ngomong-ngomong dari mantan yang ke-berapa, Nyil? hehe)

“Ciee…yang happy valentine!” kami spontan menggodanya. Unyil buru-buru ngeles dengan raut wajah malu, “Ah, gue gak ngerayain kok..tapi kalo ada yang ngasih ya alhamdulillah…rejeki tuh gak boleh ditolak, PA-MA-LI!”

Yah, begitulah kekuatan cinta di tanggal keramat, 14 Februari.

*****

Siangnya, The Rangerz feat. Reza makan siang bareng di belakang kampus. Suasana warung tenda yang pengap dan hawa penggorengan bercampur terik matahari seolah gak mempan bagi kami yang ribut bercanda sambil tertawa rusuh.

Siang itu si bontot Unyil kembali jadi bahan ledekan karena pesanan tongseng ayamnya yang terlihat meragukan. Warnanya merah banget bo!
“Nyil, itu tongseng apa gulai padang??”
“Ah, tongsengnya lagi mens tuh…hahaha!”

Unyil menatap kami satu persatu dengan mimik eneg. Dia memang paling gak bisa kalo makanannya dikatain macem-macem. Maka aku buru-buru menengahi, “Tapi keliatannya enak kok…beda dari tongseng yang laen! sok atuh dimakan!”

Tapi emang dasarnya udah salah pesen menu, jadilah tu tongseng ‘jadi-jadian’ cuma diabisin setengahnya. Itu juga makannya ogah-ogahan. “Udah ah. Kenyang.” katanya kemudian. Tumben. -_-“

Saat itu tiba-tiba datang seorang pengamen dengan suara ba-bi-bu-be-bo (gak jelas, maksudnya) dari arah belakang. Aku celingukan mencari sosok pengamen tersebut, dan baru ketemu pas nunduk agak ke bawah. Owalahh…ternyata pengamennya anak cowok bertubuh mungil! mungkin sekitar umur 6 atau 7 taunan gitu.

Setelah mendapat uang, pengamen cilik itu pergi entah kemana. Cepet banget ngilangnya. “Kurus amat tu anak! Kasian deh…” ya, anak itu memang bertelanjang dada, dan kami bisa langsung melihat tulang-tulangnya yang bertonjolan dibalik kulit sawo matangnya yang tipis. Kondisi anak itu hampir mirip sama anak-anak busung lapar yang pernah kulihat di tv. Duuh…aku jadi merasa bersyukur banget karena punya masa kanak-kanak yang indah. Mau makan tinggal buka mulut, mau beli mainan tinggal tunjuk. Hasilnya? ya pipi gembil yang kubawa-bawa sekarang ini.

“Gue mau kasih sweater.”

Tiba-tiba Reza (yang dari tadi sibuk ngeliatin giginya di kaca karna diteriakin “AWAS CABE NYELIP!” sama Metta) langsung angkat bicara. Parahnya, kami langsung mengolok-ngoloknya sambil tertawa cablak. Maklum, walau dari luar tampangnya tu bocah serius dan meyakinkan, tapi dalemnya setali tiga uang sama kami berempat. Minus!

“Lah malah pada ketawa…gue serius tau!” sergahnya sambil melepas sweater biru tua gombrong yang melekat di badannya. Kami berempat saling liat-liatan. Heran.
“Lo serius, Ja?”
“Serius!”
“Gak nyesel?”
“Enggak.”

“Tapi anak yang tadi kemana ya?” kami memencarkan pandangan ke seantero warung. Tapi hasilnya nihil, dia hilang tak terlacak. Dan disaat yang lain masih sibuk membayar makanan masing-masing, Aku keluar warung duluan karena penasaran dengan pengamen cilik itu. Dan ternyata ketemu!

“Heii!! sini deh!! SINI !!” aku berteriak heboh. Tapi saat mereka berlarian datang, bocah kurus itu lenyap. Padahal beberapa detik yang lalu dia masih duduk di kursi panjang di warung tenda itu! Benar-benar aneh…

“Hmm…yaudahlah. Mungkin belum rejekinya tu anak kali..”

Sambil berpikir begitu, kami pun bergegas balik ke kampus dengan menyeberangi rel kereta. Saat itulah tiba-tiba terlihat pengamen cilik tadi menyeberangi rel juga dari arah berlawanan. Dadanya yang kurus pipih terpanggang matahari dan kedua kaki mungilnya yang tak beralas menyusuri rel dengan gesit.

“AH! ITU DIA!” kami berteriak heboh.

Reza langsung menyerahkan sweaternya ke Metta. “Lo aja yang kasih…” ujarnya sambil berdiri agak menjauh. Metta bengong. “Lah, ini kan punya lo, Ja?”
“Iya, tapi kalian aja deh yang ngasih…”
“Emang kenapa?”
“Gak papa….”

Maka The Rangerz dengan gagah perkasa buru-buru mencegat bocah itu di pinggir rel. Takut dia ngilang lagi. “Eh, Dek…STOP!” pengamen cilik itu tersentak kaget, mukanya rada takut juga dicegat sama empat cewek sekaligus.

Tenanglah, kita bukan Geng Nero kok, Dek!

“Nih, buat kamu…dipake ya.” Metta menyerahkan sweater Reza sambil tersenyum. Bocah itu terdiam sejenak, memandangi kami satu-persatu dengan wajah polosnya, lalu mengambil sweater itu perlahan. Detik berikutnya ia langsung berlari membelakangi kami, dengan sweater biru melambai-lambai tersampir dibahunya. Larinya luar biasa cepat. Tau-tau dia udah ngilang lagi entah kemana.

“Waduh, jangan-jangan dia tuyul!”
“Hush!”

Tapi yang jelas, walau itu sweaternya Reza, kami turut merasakan kesejukan yang jarang kami rasakan. Indahnya berbagi.

*****

Angin bertiup semilir di sepanjang perjalanan kami menuju masjid. Bikin mata jadi ngantuk apalagi ditambah perut yang kenyang. Dan tiba-tiba saja…

“ADUH!!”

Metta menjerit di belakangku. Wow, gak ada badai gak ada ujan mendadak sol sepatu tepleknya copot sebelah. “Aduhh…gimana nih..ada yang punya lem gak?” tanyanya panik sambil memeriksa sepatunya yang jebol parah.
“Beli sendal jepit aja, Ta!!”

Secercah harapan terbit di wajah gadis berjilbab itu. Walau gak matching sama prinsip pink everywhere-nya, (soalnya sepatu yang jebol tadi warna soft pink gitu. cute abis!) yang penting dia gak harus nyeker di jam kuliah terakhir nanti. “Tapi…”

“Tapi gue gak bawa duit lebih…ada yang mau beliin dulu ga? Besok gue ganti!”

“Sip!” Ika dan Reza langsung berangkat nyari sendal, sementara yang lainnya nunggu di parkiran sambil tetep mencoba mengakali sepatu Metta. Tapi karna udah memble berat, tu sepatu akhirnya dilempar ke tong sampah.

Semenit. Lima menit.

“Et dah…beli sendal dimana sih? lama amat!” Aku yang bosan duduk di bawah pohon celingukan mencari-cari. Gak lama akhirnya keliatan juga batang idung dua anak itu. Ika dateng, cengengesan sambil menenteng kresek sandal jepit.

“Nih, dibeliin coklat ama Reja!” ujarnya sambil memotek-motek coklat batangan untuk dibagi rata. “Ciee…so swiiit!! valentinan nih bu ceritanya? Ahahaha…”

Ternyata, di tengah perjalanan keduanya beli sendal jepit di warung tadi, Reza ketemu Om-nya. Setelah cium tangan dan ngobrol sekenanya, sang Om mengeluarkan selembar 50 ribuan dan menyerahkan pada ponakannya tercinta.

“Nih. Buat jajan…”

Nah, pas lagi beli sandal di warung, Ika iseng nyeletuk, “Ja…coklat enak nih kayaknya..” ujarnya sambil senyam-senyum najis. “Yaudah, ambil aja.” Jawab Reza enteng. (Yaiyalah…abis dapet duit gitu loh!)

“Yahhh…tau gitu lo beli coklatnya empat batang, Ka!!”
“ Hushh…kalo matre jangan bilang-bilang dong, ah!”
Hihihii….

“Eh, tunggu dulu deh. Jangan-jangan…ini balasan sweater yang tadi ya…” celetukku tiba-tiba. Sebuah celetukan yang membungkam mulut-mulut ceriwis kami yang dari tadi ribut mengunyah cokelat. Semuanya terdiam, berusaha mencerna ucapanku tadi. Kok kejadian hari ini jadi rada mirip reality show di tv gitu yah? abis nolong orang, trus dapet rejeki tak terduga. Ah, entah benar atau hanya kebetulan semata. Yang jelas semua yang kami alami ini rasanya saling berkaitan dan Allah seperti hendak memberi semacam hidden message tentang satu hal, yaitu : ikhlas.

Yup, sekarang yang terpenting bukan pada hari apa kita memberi kasih sayang, tapi apa yang bisa kita berikan untuk orang lain.

Mendadak terngiang kembali sebuah pepatah orang bijak : jangan pernah takut kehilangan karena sesungguhnya kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih. 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: