Ikha2705’s Weblog

Mei 16, 2011

Yan Gymnastiar ( Aa Gym) ( BI 2 Softkills )

Filed under: Uncategorized — ikha @ 3:32 pm

Yan Gymnastiar atau lebih dikenal dengan Aa Gym lahir pada tanggal 29 Januari 1962. Ketika itu ibunda Aa Gym yang bernama Yetty ketika melahirkan ditolong oleh seorang bidan Ramdah yang praktek di jalan Gurame, Bandung. Saat itu Aa Gym lahir ketika baru menginjak umur 7bulan, hal hasil beliau harus lahir premature dan harus sering-sering dipanaskan di inkubator.

Aa Gym adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya member nama Yan Gymnastiar. Yan diambil dari bulan kelahiran yaitu bulan januari dan Gymnastiar yang unik diambil dari kata gymnastic (senam) sebab ayahnya pada saat itu senang dengan olahraga ini. Saya senang sekali dengan nama ini karena nama yang unik dan tak ada yang menyerupai meskipun banyak yang salah dan susah menyebutkannya tutur Aa Gym. Kelak nama beliau diberi tambahan nama Abdullah, pemberian imam Masjidil Haram sewaktu haji 1987, saya lebih senang karena nama lebih ilami. Namun kini orang lebih sering memanggil dengan sebutan Aa Gym.

Sengaja saya tidak melengkapi nama anak-anak dengan nama Gymnastiar. Karena tak mau anak-anak terbebani atau sebaliknya mereka berlindung dibalik nama orang tuanya. Saya berharap mereka maju dan sukses dalam hidup dengan kemampuan dan perjuangan sendiri.

Ibu saya bernama Yetty Rohayati, beliau lahir tahun 1946 dan asli sunda. Saya selalu ingat jerih payah ibunya ketika mengirit uang agar anak-ananknya bisa sehat dan berpakaian layak karena gaji ayah waktu itu masih terbatas. Terbayang juga ketika ibu berjualan dikantor dan mengkreditkan pakaian untuk menambah biaya keluarga. Walaupun ayah seorang perwira, namun tidak ada penghasilan tambahan lainya.

Ibu rajin sekali tahajjud, shaum dan beribadah dari dulu. Kadang saya sedih karena belum bisa maksimal memuliakan ibu. Setiap selesai salat saya selalu membayangkan ibu menjadi salah seorang bidadari di surga. Itulah yang membuat saya bersemangat untuk berusaha membahagiakannya. Seandainya saya bisa berbuat kebaikan semoga ganjarannya diberikan juga untuk ibunda yang telah menjadi jalan terlahirnya saya disini.

Ayah saya bernama Engkus Kuswara. Beliau pertama kali bertemu dengan ibu ketika menumpang kost di rumah nenek dari ibu.  Saya bangga memiliki figur ayah saya walaupun tentu ada kelebihan dan kekurangannya, karena memang beliau manusia biasa yang terlahir dari keluarga sederhana.

Ayah pergi merantau dan bersekolah di SPO (Sekolah Pendidikan Olahraga) setelah selesai pendidikan beliau menjadi guru olahraga dan ketika saya berusia 4 tahun barulah ayah masuk menjadi tentara sebagai perwira muda

Walau ayah seorang perwira menengah, tapi bergaulnya justru dengan orang-orang kecil. Hidup sangat ramah bersama tukang becak, prajurit-prajurit, bahkan sampai sekarang walaupun sudah pensiun hobinya adalah menjadi “supir truk” dari beliaulah saya dapat belajar kerendahan hati.

Pada awalnya saya tinggal bersama orang tua di jln. Babakan Kancra. Kemudian menjelang masuk TK saya tinggal dengan nenek saya di Jln. Rusa. Hubungan emosional saya dengan nenek begitu kental karena saya tinggal dengan beliau sudah cukup lama sampai TK saya selesai. Saya pun sempat mendampingi nenek pergi haji, bahkan akhirnya nenek pun kemudian tinggal bersama keluargasaya di pesantren.

Saya sangat mendapat hikmah dan pelajaran ketika tinggal bersama nenek. Beliau seorang pekerja keras dan hemat. Nenek bagi saya merupakan figure yang gigih. Di usia tuanya ia masih tetap bekerja karena tidak mau menjadi beban orang lain. Belaiu juga sangat dermawan dan pandai mengelolah uang, sehingga akhir hayatnya nenek masih bias membangun sebuah rumah. Beliau tidak mau membebani orang lain walau anak cucunya sekalipun. Nenek sudah tiada. Semoga allah melimpahkan kasih sayangnya. Semoga pendidikan yang amat berarti dalam hidup saya yang telah beliau ajarkan mengalir pahalanya yang tiada terputus sampai Yaumul qiyamah

Saya memiliki 3 orang adik, dua lelaki dan satu perempuan. Hal lainnya yang menarik dari adik-adik adalah pantang untuk menjadi beban. Walau saya dititipi rezeki yang cukup,adik-adik saya tidak pernah meminta bahkan meminjam sekalipun kecuali kalau sangat darurat. Saya bersyukur orang tua membimbing kami sekeluarga bias saling menyayangi dan saling memajukan, mudah-mudahan dari hati yang tulus.

Saya memulai pendidikan formal awal di SD Damar sebuah SD Swasta yang kini sudah dibubarkan, menjelang naik kelas 3 SD ayah mendapat jatah rumah di KPAD Geger Kalong, saya pun pindah sekolah ke SD Sukarasa 3, disini saya berkumpul dengan anak-anak tentara lainnya. Jiwa dagang saya sudah mulai terbentuk sejak TK, Hingga SD pun masih suka berdagang. Selepas SD saya memilih masuk SMPN 12 Bandung, alhamdulilah saat SMP prestasi saya kian cemerlang. SMP saya beberapa kali terpilih menjadi ketua UKM dan blajar ilmu beladiri di KKI

Saya berhasil masuk sekolah SMAN favorite di Bandung yaitu SMAN 5 Bandung, kebanyakan yang bersekolah disini adalah anak-anak pejabat dan orang tua dari kalangan berada. Namun efeknya pun saya menjadi lebih bersemangat untuk mencari rezeki sendiri. Ada yang menarik saat saya SMA ketika itu saya ingin sekali mempunyai rambut seperti John Travolta yang pada waktu itu sedang trend karena kurang modal, saya mmasuk ke salon yang murah meriah, akibatnya malah jadi musibah karena kritingnya terlalu kecil. Saya stress ketika akan masuk sekolah karena ditertawakan oleh teman-teman.

Lulus SMA saya mencoba daftar ke pendidikan Ahli Administrasi.perusahaan ( PAAP) Universitas Padjajaran program D3 fakultas Ekonomi, selepas PAAP saya masuk ke Akademi Tekhnik Jendral Ahmad Yani (ATA, sekarang Unjani) Kampusnya dulu sangat sederhana karena menumpang di SD Widyawan atau kadang di PUSDIKJAS. Kegiatan berbisnis saat kulaih semakin menggebu, saya pernah membuat usaha keset dari kain perca, saya juga pernah menjual baterai dan film kamera kalau ada acara wisuda , pernah menjadi supir angkot jurusan Cibeber Cimahi sekedar menambah pemasukan. Inti dari semua ini karena memang saya senang untuk membiayai kebutuhan sendiri tanpa menjadi beban siapapun. Selain itu saya juga melatih diri untuk tidak dibelenggu oleh gengsi dan atribut pengekang lainnya.

Saya telah menyelesaikan program D3 di ATA walaupun belum mengikuti ujian Negara, berarti saya memang tidak berhak menerima gelar apapun, bahkan sampai saat ini ijazah saya belum diambil.

Seusai kuliah saya kembali kerumah orang tua saya, saya sekamar dengan adik ketiga yang diuji dengan penyakitnya yang kian parah. Adik yang bernama Agung Gun Martin lahir tanggal 10 Maret 1966 dalam keadaan normal namun lambat laun tubuhnya semakin melemah bahkan menjadi lumpuh, karena sewaktu kecil ia pernah diambil sumsum tulang belakangnya

Pada waktu SMA, sebagian tubuhnya mulai kaku, namun Agung tetap berjuang hingga diterima kuliah di Fakultas Ekonomi Unpad. Walaupun telinganya sudah mulai tuli, tapi Agung semakin giat untuk kuliah dan dia rajin sekali beribadah malam.

Ketika melepas kepergian adik untuk selama-lamanya saya kian bertekad untuk melaksanakan nasihat-nasihatnya. Ya ALLAH semoga amal dan kebaikan apa pun yang kulakukan berikan ganjaran bagi adikku tercinta. Jadikan dirinya ahli surgarmu Amien.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: